Cerita Horor Suster Ngesot

Cerita Horor Suster Ngesot

Cerita Horor Suster Ngesot

Waktu itu, Totok dan Heru sebagai panitia reuni akbar mendapat tugas menyebar undangan. Karena undangan yang mesti mereka sebar cukup banyak, maka udah mendekati sedang malam, barulah mereka selesai. Menjelang jam 11 malam, didalam perjalanan pulang, mereka mesti melewati jalur utama yang di segi kirinya adalah sebuah sekolah swasta dan di sampingnya sebuah asrama biara. Sebenarnya tersedia rasa tidak nyaman saat mereka dapat melewati area itu, sebab udah menjadi rahasia lazim kalau sekolah dan biara itu miliki kisah-kisah seram. Tapi, kalau mereka tidak melewati sekolah dan biara itu, mereka berkenan melalui mana? Karena jalur itu adalah cuma satu jalur arah pulang mereka.
Bandar Taruhan
Semakin mendekati lokasi biara dan sekolah itu, hawa mistis menjadi terasa. Udara menjadi benar-benar dingin menggigit, suasana benar-benar sepi, apalagi bus malam yang biasa meewati jalur itu seolah tidak berkenan lewat. Semakin mendekat, Heru yang memegang stang motor menjadi gasnya tambah berat. Dia udah berupaya memutar gas sekuat tenaga,namun, motornya serasa enggan berjalan. Totok yang membonceng tiba-tiba menjadi aneh, dia seakan didorong oleh permohonan untuk menoleh ke belakang, dan…Sreekk…… sreeeekkk…
Huaaa!!!!

Sesosok wanita bersama rambut putih menjuntai, bersama busana ala perawat menarik motornya dari belakang bersama cara ngesot.
“Ru! Cepat! Tancap gas!” Totok gugup. Kepalanya seolah tidak berkenan bergerak, terus memandangi sosok yang ngesot itu. Tangannya lebih dari satu kali memukul helm Heru supaya berkenan memercepat laju motor yang seolah tidak bergerak.

“Tiii…tiii…tidak bisa!” Heru pun tak kalah gugup. Dia udah memutar gas sekuat btenaga, namun seakan tak berkenan bergerak. Sedangkan kepalanya terus menatap ke depan, tak mampu untuk menoleh.
Setelah perjuangan yang cukup lama, motor yang benar-benar pelan itu selanjutnya sampai ke ujung batas lokasi sekolah itu. Dan…
Greeenggg!!!!

Motor pun lagi melaju bersama normal, Heru mampu menoleh ke belakang, Totok terhitung mampu melihat ke depan lagi. Namun, nafas mereka tetap memburu. Beruntung, tak lama kemudian mereka sampai rumah dan membiarkan rasa kuatir itu.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *